Pendahuluan
Kepada para mahasiswa
Yang merindukan kejayaan
Kepada rakyat yang kebingungan
Di persimpangan jalan
Kepada pewaris peradaban
Yang telah menggoreskan
Sebuah catatan kebanggaan
Di lembar sejarah manusia
Wahai kalian yang rindu kemenangan
Wahai kalian yang turun ke jalan
Demi mempersembahkan jiwa dan raga
Untuk negeri tercinta.
Mahasiswa memang menjadi komunitas yang unik di mana dalam catatan sejarah perubahan. Dimana mahasiswa selalu menjadi garda terdepan dan motor penggerak perubahan. Mahasiswa di kenal dengan jiwa patriotnya serta pengorbanan yang tulus tanpa pamrih. Gerakan mahasiswa dalam hal ini adalah jalan yang paling mungkin untuk mengubah ketidakadilan menjadi keadilan, mengubah hegemoni penguasa yang menyengsarakan rakyat serta menghapuskan tirani yang ada.
Mahasiswa menyandang banyak sekali gelar yakni kaum intelektualitas serta sebagai agen perubahan sosial. Bahkan Soekarno mendiang pemimpin kita dahulu berkata: “beri kami sepuluh orang pemuda maka akan kuguncang dunia”. Pemuda yang dimaksud adalah mahasiswa yang mempunyai kulaitas spesifik tampil sebagai satu lapisan masyarakat yang vocal, berorientasi ke depan sehingga menjadi idealis dan tentu saja akhirnya memiliki suatu posisi social tertentu di masyarakat dan bahkan menentukan perubahan di dalamnya.
Berkurangnya kepercayaan masyarakat kepada mahasiswa menunjukkan bahwa mahasiswa kurang berperan aktif dalm menjalani tugasnya sebagai mahasiswa pada dasarnya. Kurangnya kepercayaan ini membuat sebagian mahasiswa yang telah berperan sebagaimana mestinya merasa tersinggung. Merupakan tugas yang berat bagi mahasiswa yang sadar akan keberadaannya untuk mengambil kembali kepercayaan itu yang telah dibentuk oleh mahasiswa2 terdahulu.
Dulunya masyarakat memiliki kepercayaan yang tinggi kepada mahaiswa, ini terbukti karena mahasiswa dahulu menjalani perannya sebagai agen pengontrol, agen perubahan. Pengabdian mahasiswa kepada masyarakat mendapat sambutan hangat, ini karena kedekatan antara keduanya telah terbentuk sejak awalnya.
Apa yang membuat pergeseran kepercayaan masyarakat terhadap mahasiswa sangat signifikan dewasa ini? Ini semua bisa terjawab melalui pengamatan terhadap tingkahlaku individu mahasiswamasing-masing. Ada beberapa budaya yang marak dikalangan mahasiswa saat ini yang berhasil mencopot kepercayaan yang telah dibentuk oleh mahasiswa terdahulu, tidak lain dan tidak bukan adalah budaya Hedonis, Apatis dan Pragmatis.Untuk memahami dan mengkritisi tiga budaya tersebut, mari kita lanjutkan dalam pembahasan.
Pembahasan
Hedonis
Bukan merupakan hal temporer bila kita mncoba menelaah budaya hedon. Budaya inilah yang berjaya dalam menguasai keperibadian kalangan mahasiswa dan publik. Terkadang ada sebagian kelompok yang menikmati budaya ini tanpa dia tau manfaat dan mudaratnya pada saat ini dan masa depannya nanti.
Aristippus mengatakan bahwa hedonisme adalah tujuan hidup yang mengagungkan kebahagiaan, kebahagiaan itu diperoleh dari kesenangan dengan menjauhkan rasa sakit fisik dan gerakan halus lemah gemulai adalah dambaan dari penganut hedonisme. mahasiswa sekarang telah terjangkiti oleh hedonisme pemburu nikmat sesaat, sewaktu menjadi mahasiswa mereka membayangkan dirinya menjadi pusat perhatian, mengikuti mode dan gonta ganti pasangan.
Narcisme dan pemujaan diri adalah paham yang melekat hampir kebanyakan mahasiswa mereka akan merasa rendah diri apabila tidak ‘pacaran’, ‘nyimeng’,'dugem’ dan gonta ganti pasangan dengan sebelumnya melakukan ‘ ritual celana dalam ‘.
Kebanyakan mahasiswa berasal dari desa hal ini bisa dimaklumi karena Indonesia statusnya masih agraris, mereka di sekolahkan oleh orang tuanya agar bisa berpendidikan dan menjadi terpelajar yang nantinya akan berpengaruh pada kehidupannya, namun setelah mereka menjadi mahasiswa di kota mereka terjangkiti oleh shock culture budaya kota yang serba bebas dan semau gue, dan mereka lupa akan amanah orang tuanya yang bersusah payah mencari uang kalau perlu utang untuk membiayai sang anak yang menjadi mahasiswa. Tetapi bukan bearti mahasiswa yang berasal dari kota tidak hedon.
Budaya kebohongan yang bertopeng kemunafikan dengan bertindak sopan sewaktu pulang kampung dan menjadi liar sewaktu kembali ke kosan adalah hal yang patut tidak dilakukan. kesombongan anak kota dan yang mengaku-ngaku kota dengan merendahkan temannya yang berasal dari desa dengan sebutan wong ndeso seakan-akan yang dari desa itu tidak berbudaya, bodoh, miskin dan jelek adalah salah satu faktor yang membuat mereka berprilaku menyimpang dari didikan orang tuanya. padahal kebanyakan orang yang sukses berasal dari lingkungan desa.
Sedikit kami akan menjelaskan antara heroisme Vs hedonisme. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa heroisme adalah watak kepahlawanan dan keberanian dalam membela keadilan dan kebenaran. Hal ini diwujudkan dalam bentuk sumbangan akan pemikiran untuk pemecahan masalah negara seperti bergiat dalam kegiatan-kegiatan sosial, forum diskusi, organisasi, dan lain sejenisnya. Sedangkan hedonisme adalah pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Hal ini tercermin dari gaya hidup yang bermewah-mewahan, berfoya-foya, kongko-kongko di kafe, nongkrong tak karuan, bermesraan/free sex dan tak peduli dengan orang-orang sekitar.
Tak salah jika heroisme tumbang di kala mahasiswa lebih asyik berhura-hura. Sedangkan bangku-bangku diskusi serta kegiatan sosial murung menunggu diduduki. Mari berkaca pada sejarah 21 Mei 1998. Sebuah momentum di mana gerakan mahasiswa bersatu untuk mendobrak pemerintah Orde Baru yang tak demokratis, melanggar Hak Asasi Manusia (HAM), dan merajalelanya korupsi. Mahasiswa menjadi elemen yang sangat penting dalam melakukan perubahan di negeri ini. Pada tahun 1920-an, mahasiswa dikenal sebagai angkatan pendobrak kesadaran nasionalisme, 1960-an dan 1970-an diidentifikasi sebagai penggerak kekuatan moral (moral force), 1980-an sebagai pelopor aksi pergerakan pendampingan massa rakyat bawah (grassroots) dan sebagai kelompok penekan (pressure group) pemerintah. Mahasiswa adalah sosok yang revolusioner, agen perubahan (agent of change), penuh dengan idealisme dan pembawa suara rakyat. Mereka ibarat sang hero yang membawa ke arah perubahan lebih baik. Namun pandangan seperti ini taklah layak lagi jika mahasiswa asyik tenggelam dalam sifat hedonismenya tersebut.
Menyikapi hal ini, mahasiswa harus berbenah diri. Tindakan perspektif dari organisasi mahasiswa ataupun dosen dalam bentuk apapun juga diharapkan dapat merangkul mahasiswa agar bermetamorfosis dari hedonis menjadi herois. Tindakan itu bisa saja dalam bentuk kampanye penempelan stiker, acara diskusi lepas serta seminar yang dikemas lebih menarik dan tak kaku. Mahasiswa harus sadar bahwa mereka bukanlah kanak-kanak atau remaja yang hanya sibuk dengan diri sendiri, karena di pundak mahasiswa teremban sebuah tugas besar untuk dirinya, masyarakatnya, dan negaranya- Indonesia.
menjadi evaluasi bersama bagi semua mahasiswa, yang notabene agent of change bukan agent of nge-change (ngeceng). banyak hal yang bisa dilakukan dan bermanfaat bagi kita semua. Tidak semua having fun itu salah, tapi ya mbok jangan kebablasan toh, nduk! kalo kata raihan dalam lagunya “berhibur tiada salahnya karena hiburan itu indah, tetapi apabila salah memilihnya itulah yang membuat kita jadi bersalah”..cukup bijak.
Mungkin terlalu dini juga, kalo kita menilai generasi sekarang sangat hedon, tapi tidak bisa kita pungkiri, fenomena semacam itu (hura-hura oriented) menjadi sering kita jumpai (justru akhir-akhir ini) dan mereka semua akhirnya juga gak ada apa-apanya kalo diajak berkompetisi dalam kebaikan. sekali lagi, ini tanggung jawab kita bersama buat meluruskan lagi hal-hal yang bengkok dalam dunia mahasiswa ini.
sekali lagi, budaya hedonisme itu sangat berpotensi di dalam dunia mahasiswa (apalagi sekarang), jadi patut diwaspadai. tinggal sehebat apa kita menghapus semua potensi jelek itu dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat peningkatan softskil, hardskill and practicalskill secara personal.
Apatis
Apatis merupakan sebuah sikap yang acuh tak acuk terhadap lingkungan, masyarakat, bangsa. Dan hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Ini semua merupakan sebuah tantangan bagi mahasisiwa yang notabenenya adalah agen perubahan. Jika kita masih tebuai dan terlena dengan budaya apatis, kapan perebahan akan terwujud?
Jika melihat realitas sekarang, dimana semua kemudahan sudah tersedia dimanapun, laju informasi yang pesat serta kemudahan lain yang berada dekat melingkari di depan dan belakang kita. Semacam internet dan fasilitas media kesenangan lain yang semakin memanjakan penggunannya Budaya intelektual yang menumbuhkan ide – ide kritis baik itu dalam diskusi, tulisan ataupun organisiasi semakin tidak menarik minat mahasiswa. Golongan mahasiswa yang cuek, semau gue dan emang gue pikirin dan keengganan untuk memikirkan politik yang rumit adalah realitas yang harus dipecahkan. Jika keberpihakan bangsa ini masih pada sejarah dimana semua perubahan berawal dari golongan muda yang notabene adalah mahasiswa.
Kecenderungan bertindak apatis dan tanpa sikap apapun juga dikarenakan keengganan untuk bisa berpikir dan bertindak dalam proses, selalu orientasi hasil, sangat instan dan terkesan tidak mau tahu dengan proses padahal apapun yang menjadi tujuan dan target kita butuh proses. Butuh idealisme, keikhlasan dan terpenting adalah sikap tanpa pamrih karena ukurannya adalah moral, sedangkan gerakan moral membutuhkan waktu yang lumayan panjang dan harus dijalani dengan sabar.
Untuk itulah diperlukan pola pikir yang tumbuh dalam jiwa – jiwa muda yang progresif harus bisa menggugah sebagian mahasisiwa lainnya untuk sama – sama bergerak membangun bangsa dengan kemampuan berkarya masing – masin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar