NASKAH PIDATO WISUDA
Periode II 18 Februari 2012
Muhamad Rifandi (20070420169)
Assalamu’alaikum wr wb
Yang terhormat:
Puji syukur dalam ucapan maupun tindakan sejatinya hanya milik Allah Swt yang setiap saatnya tanpa pamrih memberikan nikmatNya kepada kita semua. Shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada junjungan kita, sang revolusioner sejati yaitu Nabi Muhammad Saw.
Pada kesempatan kali ini ijinkan kami mengucapkan penghormatan dan terimakasih sebesar-besarnya kepada orang tua kami, atas doa, dukungan, cinta, dan kasih sayang mereka yang selalu setia mengiringi langkah kami, kepada civitas akademika UMY yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk menuntut ilmu di UMY dan kepada bapak ibu dosen yang selalu membimbing, dan membuka wawasan kami sehingga kami dapat berhasil menyelesaikan belajar dan meraih gelar sarjana.
Perkenankan kami memberikan kritikan kepada segenap civitas akademika UMY, kampus ini memiliki slogan Unggul dan Islami, dimana unggul dalam iptek yang didasarkan pada nilai-nilai islami (imtaq). Langkah untuk menyelarsakan keduanya (iptek dan Imtaq) telah dirumus oleh petinggi-petinggi kampus ini. Yang menjadi pertanyaannya adalah apakah sudah terealisasi! dan sebatas mana peran kampus untuk mewujudkan slogan tersebut? Jangan sampai ini hanya sebuah jargon sebagai penarik bagi calon mahasiswa baru.
Setiap dosen telah menempuh minimal pendidikan hingga strata 2, yang seyogyanya telah berpengalaman dalam dinamika pendidikan. Akan tetapi masih ada sebagian dosen yang berfikiran sempit, memposisikan mahasiswa sebagai bejana kosong, yang setiap saatnya harus diisi sehingga timbul persepsi, dosen mengajar, mahasiswa mendengar, seperti lagu ciptaan Tom Paxton dipopulerkan Pete Seeger: Apa yang kau pelajari di sekolah hari ini anakku? Aku diajari bahwa negara harus kuat, bahwa negara tidak pernah bersalah, bahwa pemimpin kita adalah orang yang paling bijak, dan lagi-lagi kita harus memilih [melalui pemilu] mereka menjadi pemimpin… Dosen berfikir, mahasiswa difikirkan dan tidak ada proses dialogis didalamnya. Inilah yang disebut oleh Paulo Freire sebagai pendidikan “gaya bank”. Yang seharusnya mahasiswa diberi kebebasan mencari ilmu diluar, tidak hanya didalam kelas. Seperti diperpustakaan dan organisasi, terutama ortom Muhammadiyah.
Aturan presensi yang mengikat, akan menuntut tanggungjawab tiap mahasiswa, namun tidak menumbuhkan kesadaran kritis tranformatif, hal ini akan menjadi penghambat untuk sampai pada tahapan tujuan pendidikan yang diinginkan oleh guru pendahulu kita, Ibnu Sina yang mengatakan pendidikan merupakan upaya untuk membentuk insan kamil, pendidikan yang menjadikan manusia mengembangkan seluruh potensi yang ada dalam manusia tersebut. Al-Ghazali memposisikan sasaran pendidikan sebagai kesempurnaan insani di dunia dan di akhirat. Ibnu Taimiyah pendidikan harus diejawantahkan dalam kehidupan nyata. Dan yang dilakukan oleh pimpinan sekaligus guru kita yaitu KH Ahmad Dahlan, yang mengajarkan dengan lisan dan tindakan pada surat Al-Ma’un kepada murid-muridnya.
Persoalan transparansi, baik itu transparansi nilai oleh tiap dosen, transparansi pelayanan maupun transparansi keuangan yang tidak bisa diakses oleh Mahasiswa. Para dosen harus terus berupaya meningkatkan transparansi nilai pada tiap matakuliah, supaya mahasiswa mengetahui dimana kelemahan dan kekuatannya masing-masing. Transparansi keuangan merupakan yang sangat krusial bagi mahasiswa yang setiap smesternya membayar membayar kepada kampus. Nominal bukanlah persoalan, tetapi pengelolaan menjadi pertanyaan. Berapa, dimana, untuk apa dan bagaimana uang dari tiap mahasiswa dikelola? jangan sampai mahasiswa menjadi “mahasiswa ting-ting” kemana kemana kemana, ku harus mencari transparansi dmana? Supaya tidak terjadi dusta diantara kita apalagi sampai pada tahapan fitnah-menfitnah.
Tidak semua alumni UMY memiliki akses ke dunia kerja, sehingga mereka sangat membutuhkan bantuan pihak kampus dan alumni (KAUMY) yang telah sukses untuk membuka akses, namun realitanya masih minim sekali. Hal itu menjadi salah satu penyebab beberapa lulusan UMY masih menjadi “pengangguran”, Hal ini merupakan tanggungjawab moral civitas akademika UMY, jangan sampai kampus hanya memuja-muja alumni yang telah sukses dan melupakan alumni yang ‘kurang beruntung’. Kemanapun keduanya (sukses dan pengangguran) akan tetap membawa almamater merah ini.
Sebelum saya mengakhiri sambutan ini, saya ingin menekankan bahwa sambutan ini bukanlah seremonial belaka, habis bicara, habis perkara. Sepengetahuan saya, beberapa poin dalam sambutan ini telah disampaikan oleh wisudawan sebelumnya, namun tak tampak perubahan yang signifikan. Harapannya adalah pihak kampus jeli dan kritis transformatif dalam menanggapi kritikan ini.
Pada dasarnya kritik dan saran yang kami sampaikan bukan karena kebencian yang mendalam, namun kecintaan yang kuat agar kampus ini benar-benar mencerahkan dan sesuai dengan jargon yang dipopulerkan. Demikianlah yang dapat kami sampaikan, lebih dan kurang kami mohon maaf.
Billahi fi sabilil haq fastabiqul khairat.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar