dulu sekali, saat aku masih duduk dibangku SD, mungkin kelas 2 bisa jadi kelas 3, soalnya rada lupa. aku mendapatkan informasi salah satu kekayaan alam yang mengandung banyak mitos, lepas dari benar atau tidaknya, yang pasti aku telah sampai ditempatnya. itulah dia tangkuban perahu. ku kasihkan linknya kepadamu http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Tangkuban_Parahu.
pada waktu itu aku sangat menikmati dongen atau cerita tentang tangkuban perahu, sampai-sampai imajinasiku telah sampai mendahului jasadku hingga ke tangkuban perahu. memang pada saat itu aku sangat menikmati duniaku sendiri, salah satunya berspekulasi dengan imajinasi, tapi itu cendrung kearah menghayal, tapi jujur itu sangat aku nikmati pada usia tersebut, mungkin saat ini hanya oada point-point tertentu aku berimajinasi.
kenapa jadi banyak bercerita tentangku ketimbang tangkuban perahu?
ya, munkin itulah aku yang mencoba mengajak kebudayaan alam untuk berkaca kepada saya, karena dari kecil saya selalu membayangkan keindahan alam yang dijelaskan oleh guru, kekayaan yang digambarkan oleh orang-orang sukses, kemewahan yang dilukiskan oleh orang-orang serakah dan banyak lagi.
kisah yang aku tau sebelumnya tentang tangkuban perahu adalah, seorang anak yangtidak berhasil ingin menikahi ibu kandungnya, karena ibu kandungnya mensyaratkan harus membuat kapal dan danau dalam satu malam, akan tetapi si anak tetap ngotot ingin menikasi ibu kandungnya (dalam catatan ibunya telah menjelaskan posisi sebenarnya, tapi si anak tak mengakui sebagai ibu kandungnya, karena ia ingin menikahinya), lalu kemudian perahu tersebut ditendang/diterjang hingga terlungkup, lalu jadilah tangkuban perahu itu.
setelah aku sampai disana, gambaran dan bertuk perahu pun tak aku ketemukan, lalu aku bertanya diaman letaknya perahu itu?? teman disamping menjawab, perahu yang dimaksudkan adalah gunung yang berbentuk perahu terlungkup. "sialan" dalam hatiku berkata, aku dibohongi oleh giruku, itu hanya reaksi sepontan, karenan 15 tahun aku mengagumi tangkuban perahu, tapi nyatanya tak seperti aku bayangkan.
pada catatan terakhit ini aku malah balik bertanya, sebenarnya aku yang berkaca kepada alam atau alam yang harus berkaca kepada saya?? bisa jadi keduanya benar..pasti kamu ingin tau apa alasanku kan??
aku yakin kamu pasti ingin tau, kalau tidak, pasti kamu tidak membaca ini sampai akhir..
ya deh..jangan marah ya..
aku berkaca kepada alam, itu au artinyaaku tak boleh sombong dengan alam, karena alam memiliki kekuatan diluar kekuatan dan prediksi manusia, manusia tak mampu mencegah bencana alam, mungkin mengantisipasi bisa. artinya aku harus berkaca pada kekuatan besar untuk menjadi orang besar, misalkan, di tangkuban perahu cuma tumpukan-tumpukan batu yang membentuk sebuah gambaran perahu, itu menjadi sumber aset bagi pemerintah kabupaten Bandung Barat. tetapi bila batu hanya berbentuk yang tidak menarik, maka dia haya disebut batu saja.
kebudayaan alam berkaca kepada saya, ini luar dari keinginan unt sombong, tapi ini cuma memastikan bahwa apa yang aku prediksi tentang alam selamanya tak seperti yang aku prediksika. makanya alam harus berkaca kepadaku, supaya orang lain tak mengalami kekecewaan yang aku alami. mungkin aku yang berlebihan, tapi itu yang aku rasakan.
tapi yang terpenting aku adalah bagian terkecil dari alam atau disebut Micro cosmos. itulah aku dan juga kamu, karena kita adalah manusia.
salam damai..
aku dan saya sebenarnya sama saja, jgn dipermasalahkan..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar