Blog Ini Merupakan Catatan Kecil Di Dunia Maya Oleh Seorang Putra Pulau (Baca: Pulau Merbau, Kepulauan Meranti, Riau)Yang Sedang Menuntut Ilmu Di Kota (Jogja)
Minggu, 16 Oktober 2011
Men-jadi Manusia Mahasiswa
Men-jadi Manusia Mahasiswa
Rip Rifandi (Muhamad Rifandi)
Dunia mahasiswa identik dengan perkumpulan para cendekiawan muda, yang terus mencari identitas ilmu yang sedang ia geluti. Batasan program studi dan fakultas terkadang sering di salah artikan, batasan ini di anggap sebagai batasan ilmu yang harus di pelajari. Padahal batasan ini hanya sekedar pemilahan spesifikasi keahlian seseorang, setiap mahasiswa harusnya tidak membatasi dirinya pada satu disiplin ilmu saja. Spesifikasi dalam program studi hanyalah identitas spesifikasi keahlian.
Sebelum lebih jauh membicarakan tentang mahasiswa, perlu kiranya menjelaskan sifat dasar manusia, karena mahasiswa merupakan salah satu bagian identitas yang dimiliki oleh manusia. Dalam ayat Al-Quran “bahwa segala sesuatu kembali ke asalnya”, azas men-jadi (yakni bergeraknya manusia secara permanen ke arah Tuhan, ke arah kesempurnaan ideal) ini menunjukkan evolusi tanpa henti dari manusia ke arah Yang Tanpa Batas, Maha Abadi dan Maha Mutlak yang dimiliki oleh Tuhan; oleh karena itu, bergeraknya manusia ke arah Dia bearti gerakan manusia terus-menerus tanpa henti ke arah tahapan-tahapan evolusi dan kesempurnaan. Inilah definisi manusia dalam keadaan yang ‘men-jadi’.
Manusia dalam keadaan men-jadi atau manusia yang berusaha men-jadi memiliki tiga sifat/atribut yang saling berkaitan: kesadaran diri, kemauan bebas dan kreativitas. Ketiga pokok atribut ini akan selalu menampilkan sifat-sifat lain yang merupakan turunan dari ketiga sifat di atas. Kesadaran diri menuntun manusia untuk memilih. Kemampuan untuk memilih menolongnya untuk mencipta-- yakni mencipta sesuatu yang bukan alam. Tiga prinsip ini saling melengkapi dan saling memerlukan dalam suatu cara yang terpadu.
Kesadaran
Descartes dalam suatu formula yang terkenal “cogito, ergo sum’ (saya berfikir, karena itu saya ada) mendasarkan prinsip kesadaran pada pemikiran, pada suatu fakta bahwa manusia meragukan segalanya dan kemudian ia membuktikan eksistensinya dengan mengatakan bahwa ia tidak dapat meragukan fakta yang sedang ia ragukan. Demikian ia menampakkan eksistensinya dengan berfikir bahwa ia ada. Andre Gide mendasarkan kesadaran eksistensinya pada perasaan: “ saya merasa, karena itu saya ada”. Sedangkan Albert Camus mendasarkan kesadaran pada suatu tindakan yang lebih sadar: “saya memberontak, karena itu saya ada”.
Selama manusia hidup tanpa salah di alam surgawi, ia justru tidak manusiawi. Hanya dengan memberontak ia menjadi manusia. Ketika ia mengetahui bahwa ia di takdirkan tanpa salah dan tanpa produktif di dalam surga ia memberontak dengan memakan buah pengetahuan, buahnya pemberontakan dan kesadaran. Demikian ia di usir dari surga yang penuh kesenangan, kemudahan, konsumsi murni dan kepuasan fisik. Walau ia dalam posisi yang dibuang, ditendang dan diusir, akan tetapi ia memulai kehidupan barunya dengan suatu perasaan tanggung jawab.
Manusia adalah satu-satunya mahluk di dalam alam yang telah meraih kesadaran. Kesadaran itu adalah pengalamannya tentang kualitas dan esensi dirinya, dunia dan hubungan antara dirinya dengan dunia dan alam.
Kebebasan
Manusia adalah satu-satunya mahluk di dalam alam yang dapat memilih bagi dirinya sendiri dan apa yang ia pilih dapat bertentangan dengan instingnya (nalurinya), dengan alam, dengan masyarakat atau juga bertentangan dengan dorongan-dorongan fisiologis dan psikologisnya. Kebebasan memilih atau kemampuan iradahnya itulah yang dapat mendorong manusia dalam mencapai taraf tertinggi dari proses men-jadi manusia, realitas kemanusiaan. Kemampuan untuk memilih yang berlawanan dengan alam sesungguhnya menjadi milik pencipta, tetapi manusia di karuniai dengan hak istimewa yang unik ini.
Kreativitas (daya cipta)
Kreativitas terwujud dalam eksistensi kekuatan kreativitasnya di dalam alam, sebagai suatu mahluk yang has di alam semesta. Manusia lebih sekedar mahluk pembuat alat, sebagaimana ia sering di definisikan; ia pencipta dan pembuat barang-barang yang belum terdapat di dalam alam. Sebabnya mengapa ia membuat dan menyempurnakan seni membuat barang-barang adalah karena ia mengetahui bahwa tidak semua keinginannya dapat dipuaskan dengan apa yang telah terdapat pada alam. Sepanjang ia tetap tinggal pada eksistensinya tanpa bergerak maju maka alam akan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Akan tetapi ia membutuhkan lebih dari apa yang telah di sediakan oleh alam, begitu ia mulai bergerak untuk men-jadi.
Manusia tiga dimensional itu selalu berperang melawan tiga kekuatan deterministik yang cendrung membatasi kemampuan iradah, kesadaran diri dan daya ciptanya. Namun sayang sekali bahwa beberapa dari faktor-faktor yang menghambat ini muncul dengan selubung atau baju ideologi. Pantas di sesalkan bahwa ideologi-ideologi modern sering bermaksud memperlemah individu, kesadarannya, dan kemauan untuk menentukan nasib sendiri, di depan negara dan penguasa yang yang sedang memerintah, dan ini adalah tragedi terbesar pada zaman kita.
Turunan dari tiga pokok atribut manusia di kemas oleh perguruan tunggi dalam Tri Darma Peguruan Tinggi; Penelitian, Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat. Oleh mahasiswa di kemas dalam tanggungjawab mahasiswa; Akademik (Intelektualitas), Moral (Religiusitas) dan Sosial (Humanitas). Tiga dimensi tanggungjawab mahasiswa seyogyanya berjalan secara simultan, karena merupakan mahasisw yang ingin bergerak untuk men-jadi.
Tanggungjawab Akademik (Intelektualitas)
Merupakan kewajiban pokok bagi mahasiswa untuk bisa bertanggungjawab atas spesifikasi ilmu yang ia tekuni. Jangan sampai mahasiswa akuntansi tidak mengerti tentang akuntansi, mahasiswa ilmu ekonomi dan manajemen tidak tau tentang spesifikasi ilmu yang sedang ia geluti, begitu juga spesifikasi ilmu yang sedang di geluti oleh mahasiswa lainnya. Penekanannya adalah ilmu yang sedang kita pelajari mempunyai orientasi yang jelas untuk kebaikan dan perbaikan, jangan malah sebaliknya. Pepatah mengatakan ‘ilmu tanpa amal sia-sia, amal tanpa ilmu buta’.
Tanggungjawab Moral (Religiusitas)
Ilmu yang diperoleh mahasiswa tidak boleh di sempitkan hanya untuk kebutuhan individu. Individu yang bergerak untuk men-jadi selalu menempatkan sesuatu dalam skala yang lebih besar. Dalam hal ini mahasiswa mempunyai tanggungjawab moral kepada Tuhan, Agama, Orang tua juga kepada manusia lain dan alam.
Tanggungjawab Sosial (Humanitas)
Mahasiswa juga identik dengan sebutan agen perubahan dan agen pengontrol sosial. Dalam hal ini mahasiswa mempunya posisi strategis dalam mengontrol kebijakan pemerintah dan memberikan solusi perubahan yang lebih baik bagi kehidupan alam. Di indonesia, bisa kita ambil contoh gerakan mahasiswa ‘98 yang yang telah menelorkan reformasi bagi bangsa indonesia, yang mengingikan indonesia lebih baik. Hal yang terkecil adalah mahasiswa yang tinggal di kos bisa menciptakan suasana kondusif di lingkunannya dan membaur dengan masyarakat setempat.
Kesimpulannya adalah manusia yang telah mendeklarasikan dirinya menjadi mahasiswa, bearti ia telah memberanikan diri mengambil tanggungjawab yang lebih besar dan memposisikan dirinya sebagai manusia men-jadi: yakni bergeraknya mahasiswa secara permanen ke arah Tuhan, ke arah kesempurnaan ideal. Semoga kita tetap istiqomah di jalan manusia mahasiswa men-jadi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Galeri Pribadi
Moment Wisuda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar