Sabtu, 03 Maret 2012

Antara merpati dengan aku.

Antara merpati dengan aku.
Semenjak aku pindah ke kontrakan yang baru ini, serasa selalu mendapatkan suasana berbeda. Sekawanan burung merpati milik pakde slamet yang selalu membuat suasan menjadi indah. Merpati banyak sekali memberi pelajaran hidup bagi ku, keakraban, keramahan, kesopanan dan kebersamaan. Setidaknya emapat hal tersebut yang dapat aku pelajri dari sekawanan merpati yang tinggalnya serumah dengan kontrakan baru ku ini.
Keakraban, merpati selalu bersikap akrab kepadaku, walau aku masih sangat terbilang baru hadir di komunitas mreka. Sapanya lembut membuat aku merasa bagian dari komunitas mreka. Bagiku ada hal yang sangat menarik selama pergaulanku dengan merpati-merpati tersebut, walau kelihatan akrab dan semacam tak ada batas diantara kita, tetapi sangat sulit aku untuk melebur secara utuh kedalam komunitas mereka. Mereka punya batasan sendiri yang komunitas lain tidak akan bisa masuk kesana, merpati dengan merpati lain tidak ada terjadi kelas sosial yang membatasi ruang sesama mereka, kepada luar komunitas mreka, keakraban yang dikedepankan.
Dalam konteks kehidupanku dengan manusia lain, aku jarang sekali menemui perlakuan seperti perlauan yang diberikan oleh sekawanan merpati kepada ku. Sepertinya aku merasa aneh saat berada di tengah-tegah komunitas yang baru dan merasa asing dengan komunitas kebiasaaku. Merpati mengajariku untuk selalu akrab dengan siapa pun, tanpa memandang kelas sosial, dan membuat batasan diri yang orang lain tidak akan mampu masuk kesana, ia ku namakan sebagai “prinsip hidup”, dan jangan salah penerapan menjadi “egoisme”.
Keramahan, aku tidak pernah melihat merpati satu dengan merpati yang lain saling berpaling muka disebabkan sesuatu, misalnya rebutan makanan, rebutan tempat tidur atau diesebabkan hubungan asmara, cemburu misalnya. Tidak sama sekali aku melihat kejadian itu, yang ku lihat mereka terus bertegur sapa dan salaing membangun keakraban dngan bercanda di lingkungan komunitas mreka.
Kelas sosial dan bangunan budaya terkadang mengekang kita untuk tidak ramah terhadap komunitas kita sendiri, dan merusak komunitas lain, misalnya: merusak tumbuh-tumbuhan, memburu hewan tanpa pandang bulu dan membuat suasana alam menjadi kumuh dan kusang. Saya melihat dan merasakan manusia dewasa ini kurang ramah terhadap komunitas mereka sendiri, juga dengan lingkungan, tumbuh-tumbuhan, hewan dan makhluk lainnya, sehingga manusia selalu menjadi sumber kerusakan yang terjadi di jagad raya ini. Manusia Sanggup merusak dan membunuh luar dari dirinya untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan materinya secara individu. Sebenarnya yang harus dirusak dan dibunuh adalah apa-apa keingian yang merugikan orang lain yang terdapat di dalam tubuh setiap manusia itu dan menyadari hakikat keberadaannya di muka bumi ini.
Kesopanan, merpati selalu bersikap sopan terhadap sesama komunitasnya dan juga luar komunitasnya. Saat ingin melakukan layaknya hubungan suami istri, merpati tidak berperilaku seperti babi yang ikhlas pasangannya berhubungan dengan yang lain didepan matanya, ia tak akan pernah marah atau membunuh selingkuhan pasangannya itu. Merpati juga tidak seperti kambing yang menghumbarkan tingginya hasrat nafsunya dimuka publik, berkompetisi dengan kompetitornya untuk mendapatkan teman kencan dan dipublikasikan dihadapan publik. Merpati punya cara lain untuk mendekati bakal calon (balon) pasangnanya, silakan saksikan dan pelajari sendiri.
Aku berbica mayoritas dalam kapasitas empirisku memperhatikan lingkunganku, aku melihat ketaksopanan sikap manusia bukan lagi menjadi sesuatu hal yang tabu dan aib pribadi, keluarga maupun masyarakat. Seorang pria yang melakukan pendekatan (pdkt) dengan wanita selalu seks yang dijadikan motivasi dasar. Dan banyak juga yang tidak lagi punya rasa malu bergandengan tangan, berpelukan dan bahkan menggendong janin yang ia lakukan dengan pasangan yang sama sekali tidak memiliki ikatan yang sah, melainkan hanyalah sekedar komitmen. Kalau aku perhatikan, generasi sekarang menganut paham “tembak aku, lalu aku milikmu”. Kata “tembak” yang berorientasi ke “pacaran” sudah menjadi legitimasi bagi pasangan untuk melakukan sesuka dengkul mereka. Lantas aku bertanya, kemana perginya kesopanan dan malu sebagian dari iman itu? Aku belum menemukan jawabannya.
Kekompakan, ada fenomena manari yang terjadi sekitar jam 07.00 WIB dan 16.30 WIB saat pakde slamet selesai memberi makan para sekawanan merpati miliknya, cukup dengan modal sebatang bambu panjang yang tegak lurus. Setapkali setelah diberi makan, merpati perintahkan untuk terbang bersama-sama setinggi yang mereka inginkan. Cukup dengan sebatang bambu yang digoyang-goyangkan agar merpati tersebut mau terbang. Pada saat merpati terbang menjulung tinggi diatas, mereka terbang dengan membentuk formasi yang tidak bisa ku tebak maksud dan tujuan mereka itu apa. Indah, sungguh indah, mereka menempatkan diri di tiap posisi lain yang membutuhkan kehadirannya.
Belajar untuk tidak sekedar hanya menjadi penonton yang penuh imajinasi, tetapi mencoba untuk menjadi actor yang akan ditonton oleh orang lain, manusialah yang menjadi actor pembuat sejarah, bukan makhluk yang lain. Syukuri itu dengan tindakan memanfaatkan sumberdaya ini untuk kemaslahatan ummat.
Kontrakan, rabu dini hari, 19 0kt 2011, 00:10 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Galeri Pribadi

Galeri Pribadi
Moment Wisuda