Bangkit atau tenggelam pada rasa ini??
Aku selalu tenggelam dengan angan-angaku sendiri. Bukan bearti aku tak mampu dan tak mau untuk bangkit, tapi simpang siurnya informasi yang ku dapatkan membuat aku lebih memilih untuk diam ditempat. Diam di tempat ini hanya kulakukan secara fisik, namun secara imajinasi ia tak diam, malah berkresi sampai tahapan lepas batas. Pertanyaan yang muncul adalah mau aku bawa kemana rasa ini? Kapan waktunya aku bisa jujur dengan rasa ini? Dan untuk siapa sebenarnya rasa ini?
Bukannya aku tak bisa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, manun ada secuil suara hati yang mengatakan aku belum mampu untuk jujur atas rasa ini, yang terpenting adalah aku untuk menyiapkan diri terlebih dahulu, jangan sampai saat aku meluapkan rasa ini mengakibatkan kejadian fatal yang dikarenakan kecerobohanku. Sepertinya hal inilah yang harus aku lakukan terlebih dahulu.
Dalam prakteknya, rasa itu tidak jujur lagi ke aku, ia memaksa aku untuk ikud dengan rasa itu. Dan aku berjanji tak akan menutupi siapa sebenarnya rasa itu, tapi tetap berupaya menahan diri terlebih dahulu. Rasa itu adalah rasa ingin untuk berpacaran, memiliki teman perempuan yang special seperti teman-temanku yang lain. Teman-temanku selalu mendorong aku untuk mencari pacar sambil mempersiapkan diri untuk melanjutkan hingga jenjang pernikahan. Aku berterimakasih sekali kepada teman-temanku.
Sejujurnya teman, aku ini mahluk yang lemah, dalam pertarungan aku selalu kalah melawan hawa nafsu yang mengajak ke hal-hal yang mengarah ke kesenangan duniawi dan sesaat. Aku bukan kamu kawanku yang mampu untuk menjaga diri dan bisa mengontrol diri. Bagiku, dalam mengelola rasa ini, aku harus berusaha menerapkan prinsip “mencegah lebih baik daripada mengobati”. Aku terus berusaha menjaga nama baik keluargaku, yang khususnya bapak dan ibuku. Sudah cukuplah kenakanal-kenakalanku selama ini yang membuat mereka resah dan tak enak hati.
Sekali lagi teman, aku bukan kamu yang mampu mengelola nafsumu. Bisa-bisa saja saat aku pacaran, aku kehilangan kontol sehingga mengakibatkan suatu hal terjadi, yang seharusnya tak boleh terjadi, walaupun sekarang ini bukan lagi menjadi sebuah aib pribadi dan keluarga. Banyak yang aku lihat orang-orang hamil duluan baru nikah, ada juga yang melahirkan tidak ada bapak, karena bapaknya gak mau bertanggungjawab, ada juga yang tega membunuh janin sewaktu dalam kandungan untuk menutupi aib, padahal janin itu gak punya dosa apa pun.
Aku bukan tuhan yang maha tau apa-apa yang akan terjadi pada setiap pribadi seseorang, juga yang terjadi pada aku nantinya. Aku juga bukan malaikat, yang kadar keimanannya selalu normal-normal saja. Aku ini manusia biasa, yang diberi kapasitas keimanan yang fluktuatif dan tidak bisa dirtebak kapan ia normal dan kapan pula ia anjlok. Masih terngiang-ngiang di telingaku perkataan seniorku, “jangan pernah menguji imanmu, mencegah lebih baik”. Yang terpenting untuk saat ini adalah aku harus sadar bahwa aku belum siap untuk meluapkan rasa ini sebenarnya, pelajari betul tentang rasa ini dan siapkan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh rasa ini.
Yogyakarta, kontrakan. 17 Oktober 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar